Daging Mammoth Purba Kembali Dihidangkan di Restoran
Di sebuah restoran eksklusif “The Pleistocene” di jantung kota New York, para kritikus makanan dan selebritas berkumpul malam ini untuk sebuah jamuan makan malam yang sangat tidak biasa. Menu utamanya bukanlah wagyu A5 ataupun kaviar beluga. Sebaliknya, hidangan utama malam ini adalah Daging Mammoth Purba. Hewan raksasa berbulu yang telah punah 4.000 tahun lalu itu kini “hidup kembali” di atas piring saji.
Ini adalah momen bersejarah dalam dunia kuliner dan bioteknologi. Perusahaan food-tech bernama “Primeval Foods” berhasil memproduksi daging hewan purba tersebut tanpa menyembelih satu hewan pun. Mereka menggunakan teknologi pertanian seluler (cellular agriculture) yang canggih. Seketika, aroma daging panggang yang asing namun menggugah selera memenuhi ruangan, membawa para tamu kembali ke zaman es.
Seorang kritikus makanan terkenal, James Oliver, menjadi orang pertama yang mencicipi steak tersebut. Ia memotong daging berserat tebal itu, mengunyahnya perlahan, dan menutup matanya. “Rasanya intens. Ini seperti perpaduan antara daging sapi tua (dry-aged beef) dan daging domba liar, tetapi dengan aroma mineral yang lebih kuat. Ini adalah rasa sejarah,” komentarnya yang langsung disambut tepuk tangan.
Sains Di Balik Kebangkitan Rasa
Bagaimana mungkin kita memakan hewan yang sudah punah? Prosesnya dimulai dengan ekstraksi kode DNA dari bangkai Daging Mammoth Purba yang ditemukan membeku utuh di permafrost Siberia. Ilmuwan kemudian mengisolasi gen yang bertanggung jawab atas protein otot dan lemak mammoth, khususnya gen myoglobin yang memberi warna merah dan rasa besi pada daging.
Selanjutnya, gen purba tersebut disisipkan ke dalam sel induk gajah Afrika (kerabat terdekat mammoth yang masih hidup) menggunakan teknologi gunting gen CRISPR. Sel-sel hibrida ini kemudian dibiakkan di dalam bioreaktor baja raksasa yang berisi nutrisi nabati. Di dalam tangki hangat tersebut, sel-sel membelah diri dan membentuk serat otot yang identik dengan aslinya.
Oleh karena itu, Daging Mammoth Purba ini bukanlah daging tiruan dari jamur atau kedelai. Ini adalah daging hewan asli secara biologis, namun tumbuh di laboratorium, bukan di alam liar. Tidak ada gajah yang disakiti, dan tidak ada mammoth yang perlu dikloning secara utuh. Ini adalah kemenangan sains yang etis.
Manfaat Lingkungan dan Etika
Peluncuran produk ini memicu diskusi hangat tentang masa depan konsumsi daging. Industri peternakan sapi konvensional adalah salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca. Sebaliknya, produksi Daging Mammoth Purba di laboratorium menghasilkan emisi karbon 90 persen lebih rendah dan menggunakan lahan 95 persen lebih sedikit.
CEO Primeval Foods menyatakan bahwa tujuan mereka bukan sekadar sensasi. “Kami ingin membuat orang bersemangat tentang daging alternatif. Jika kami bisa membuat Anda memakan mammoth, kami bisa membuat Anda memakan apa saja yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya. Strategi alexa99 ini tampaknya berhasil. Ribuan orang kini masuk dalam daftar tunggu (waiting list) untuk mencicipi bakso mammoth.
Dari sisi etika, produk ini menawarkan solusi jalan tengah. Para pecinta daging tetap bisa menikmati protein hewani asli tanpa rasa bersalah membunuh makhluk hidup (slaughter-free meat). Kaum vegan yang menolak daging karena alasan kekejaman hewan pun mulai mempertimbangkan untuk mencoba produk ini karena tidak ada penderitaan yang terlibat.
Rasa yang Hilang Ditemukan Kembali
Profil rasa Daging Mammoth Purba sangat unik karena kandungan lemaknya. Mammoth hidup di suhu ekstrem, sehingga mereka memiliki lapisan lemak subkutan yang tebal dan komposisi asam lemak yang berbeda dari sapi modern. Hal ini memberikan tekstur yang sangat juicy dan meleleh di mulut (melt-in-your-mouth).
Koki kepala restoran The Pleistocene memasaknya dengan teknik sous-vide selama 24 jam sebelum dipanggang sebentar dengan api kayu. Tujuannya adalah untuk melunakkan serat otot yang secara alami keras. Hidangan tersebut disajikan dengan pendamping akar-akaran purba dan saus beri liar, menciptakan tema zaman batu yang autentik.
Selain mammoth, perusahaan juga sedang mengembangkan prototipe daging hewan punah lainnya. Nugget Burung Dodo dan Steak Harimau Tasmania sedang dalam tahap riset akhir. Bahkan, ada wacana untuk membuat daging T-Rex, meskipun DNA dinosaurus terlalu tua dan rusak untuk dipulihkan saat ini.
Kontroversi “Franken-Food”
Tentu saja, tidak semua orang menyambut baik. Kelompok konservatif dan aktivis alam menuduh ini sebagai makanan Frankenstein. Mereka khawatir tentang dampak kesehatan jangka panjang mengonsumsi protein asing yang belum pernah dimakan manusia modern selama ribuan tahun. Apakah tubuh kita masih memiliki enzim untuk mencernanya dengan baik?
Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) telah melakukan uji keamanan ketat selama dua tahun sebelum memberikan izin edar terbatas. Hasilnya menunjukkan bahwa Daging Mammoth Purba aman dikonsumsi dan memiliki profil nutrisi yang tinggi protein serta rendah kolesterol jahat. Meskipun demikian, label peringatan potensi alergi tetap diwajibkan.
Harga satu porsi steak mammoth saat ini mencapai 500 dolar AS. Namun, seperti teknologi lainnya, harganya diprediksi akan turun drastis dalam lima tahun ke depan. Segera, burger mammoth mungkin akan tersedia di gerai makanan cepat saji di dekat rumah Anda.
Kesimpulan
Kehadiran Daging Mammoth Purba di piring kita adalah pengingat akan kecerdikan manusia. Kita tidak hanya mampu melihat masa lalu di museum, tetapi sekarang kita bisa merasakannya di lidah kita. Akhirnya, batas antara biologi, sejarah, dan kuliner telah lebur. Kita sedang memasuki era baru gastronomi di mana menu makanan kita tidak lagi dibatasi oleh apa yang hidup hari ini, tetapi oleh apa yang bisa kita bayangkan. Selamat makan, ala zaman es.
